Tampilkan postingan dengan label gaya hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gaya hidup. Tampilkan semua postingan

Pikiran Kacau Balau Ketika Belum Ada Satu Pun Lamaran yang Lolos

pencari kerja

Saat ini, tidak jarang menemukan banyak kasus yang terjadi di kalangan anak muda. - Terutama bagi anak muda yang sedang menempuh jenjang karir. Berbagai usia mulai dari akhir belasan hingga pertengahan umur dua puluhan saling bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang diminati.

Sedangkan lowongan pekerjaan yang ada juga sangat terbatas, dibandingkan dengan jumlah pelamar yang mengajukan permohonan. Ketidakseimbangan mengakibatkan banyak anak muda yang mengalami gegar otak, alias tekanan batin yang membuat akal pikirannya menjadi goyah dan mudah rapuh.

Tentu saja, hal itu juga memiliki dampak yang luar biasa bagi keluarga. Tekanan dalam keluarga menambah beban yang di alami oleh si pelamar kerja yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Kebingungan dan ketidak berdayaan mudah di alami oleh anak yang kurang pergaulan, bisa jadi dia terlalu tertutup dan kurang mempunyai pergaulan yang luas. Tidak menutup kemungkinan, adanya circle pertemanan bisa membantu mengatasi tingkat stres yang dialami oleh penderita. 

Baca Juga : Kotaku Yogyakarta Penuh dengan wisata menarik

Di saat penderita sedang mengalami tekanan yang luar biasa, mereka membutuhkan seseorang untuk mendengarkan apa yang dia keluh kesahkan. Tanpa adanya teman yang bisa diajak untuk bercerita, pikiran yang selalu membelenggu mengakibatkan tekanan emosi yang bisa saja meledak kapan pun, ketika kapasitas sudah melebihi batas.

Namun, berbeda dengan anak muda yang terbiasa mengalami depresi dan tekanan batin. Barangkali adanya dia belum mendapatkan pekerjaan, menjadi momentum untuk mengembangkan dan bereksplorasi dibidang apapun, tentu saja yang dia minati. 

Memberikan waktu untuk mencari ide dan mencoba berbagai macam cara yang halal, demi mendapatkan cuan. Memang tidak mudah, dibalik tuntutan dan tekanan yang ada dari keluarga dan lingkungan sekitar, dia harus mampu bangkit dari keterpurukan, harus bisa berpikir lebih jernih untuk memanfaatkan berbagai peluang alternatif yang ada disekitar rumah. 

Baca Juga : Kata Mutiara Bahasa Inggris Tentang Bangun di Pagi Hari

Sebenarnya dia juga memiliki banyak pertimbangan, antara melamar pekerjaan sebagai batu loncatan ataukah masih terus menunggu pekerjaan yang sedang dia lamar. Anggap saja ketika melamar pekerjaan sebagai batu loncatan memberikan dia pemasukan, itu sih baik-baik saja, tak ada masalah. 

Dilain pemikiran, banyak kebimbangan yang menerpa si anak muda, ketika dia diterima di pekerjaan yag digunakan sebagai batu loncatan, tiba-tiba ada pekerjaan yang cocok memberikan dia kesempatan untuk berkarir di sana, tentu saja membuat si anak muda harus berpikir, apakah melepaskan ataukah tetap di batu loncatan terlebih dahulu. 

Tidak mudah kita mempermainkan pekerjaan, ketika itu memang sebagai batu loncatan, ya setidaknya bisa berkarir dalam waktu yang cukup terlebih dahulu, jika tidak ada masalah sih tidak apa-apa. Oleh karena itu, mengambil keutusan tidak mudah, harus dipertimbangkan dengan matang dan penuh perhitungan. Setidaknya selalu berprasangka baik, bahwa lamaran yang diajukan bakal ada yang lolos, tinggal menunggu Tuhan memberikan sinyal hijau.


Terkadang kita sendiri bingung tentang apa yang harus dilakukan



Susah, ingin pergi, tapi tidak punya uang, ingin bekerja, tapi tidak dapat pekerjaan, apalagi semakin bertambahnya usia, semakin susah dan frustasi.

Tapi bagaimana lagi, kita tidak bisa memaksa Tuhan untuk memberikan semua yang kita inginkan dalam sekejap, tentu saja butuh perjuangan dan air mata yang sangat dalam.

Melihat orang lain yang lebih dulu sukses, membuat hati kita semakin sakit, bagaimana tidak, mereka yang walaupun nilainya pas-pasan, kok bisa langsung dapat pekerjaan yang bagus, kita yang susah payah mencari nilai bagus saja, kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Kalau mau menyalahkan, tentu saja diri kita sendiri, kenapa dulu tidak semangat dalam belajar, hanya mengejar nilai dan predikat, sementara kemampuan kita kurang terasah, terlalu meremehkan masa depan, menganggap mudah dan tidak lagi bekerja keras.

Kini, yang ada hanya penyesalan, namun bagaimanapun penyesalan itu tidak ada gunanya, lebih baik mengambil hikmah dari perjalanan hidup dan berusaha bangkit dari keterpurukan

Hai Para Penunggu Kerja, Udah SIap Nikah..?

 

kerja

hmm, gimana nih udah keterima belum lamaran kerjanya?

kalau belum ya santai aja, gak usah dibikin pusing, lagi pula banyak hal yang bisa kita lakuin, iya kan...?

bisa tidur sepanjang waktu, menikmati rasa kantuk yang sering datang menghalu. rasanya tiap hari sangat ngantuk sekali, enak sih tidur terus. lagipula bisa menikmati indahnya petualangan dalam mimpi. 

hmm, tapi jadi kepikiran pula, masak udah usia nikah belum dapat kerja? ntar kalau ada yang melamar, kita jawab apa ya...?

emang langka sih, ada cewek yang melamar cowok, kalau pun ada, si cewek mungkin benar-benar menyukai si cowok, dia tidak mau kehilangan suami masa depannya. 

tapi jangan takut ditolak juga sih, kadangkala cowok memiliki selera tersendiri, begitupula cewek, juga memiliki selera sendiri. 

kebanyakan sih cowok yang pertama kali mencari cinta, menyatakan dirinya suka pada si cewek, soalnya emmang cewek ingin di mengerti, ingin melihat ketulusan si cowok dalam memperjuangkan cintanya.

tidak menutup kemungkinan, si cewek bakal pasang pagar, eh bukan ding, apa itu ya, o iya standar alias spek idaman, susah sih kalau sudah mikir idaman

ngapain dibuat susah, lagi pula jodoh dan rezeki itu sudah di atur, kenapa harus pusing, tinggal kitanya aja yang berusaha dan berdoa, siapa tahu bulan depan di lamar si cewek.

engga tahu juga sih, kalau cewek lamar cowok, apa yang ada di isi kepala si cowok?

apakah dia bakal mencintai si cewek dengan sepenuh hati, ataukah masih mencari kesenangan yang lain. 

namun menurut pengamatan sih, si cowok bakal jagain si cewek dengan sepenuh hati, dia rela menyatakan cintanya dahulu, meskipun takut di tolak, bisa jadi nih spek istri idaman

kalau pun ada, si cowok pasti bakal seneng banget, kan cowok itu imam, ya biarlah makmum yang mendatangi si imam, 

dasar cowok tanpa ada perjuangan, wkwk, bisa jadi sih si cowok itu berjuanganya engga kelihatan, dia selalu berdoa meskipun belum tahu siapa yang akan mendampingi hidupnya

kisah cinta memnag unik, tak ada yang tahu meskipun itu peramal, semoga lekas bertemu jodohnya dan mendapatkan pekerjaan kawan.

Menjadi Anak Pertama Itu Ada Tantangan yang Amazing



Hari-hariku penuh dengan kebahagiaan, mungkin bagi sebagian orang, setiap tindakan yang aku lakukan hanyalah hal biasa. Menghabiskan waktu hanya di rumah saja, tanpa bepergian kemana-mana. 

Aku sangatlah sadar, hal itu bukanlah kisah anak muda yang hidup dengan segala kegelimpangan harta. Bahkan sebaliknya, diriku dibesarkan dalam keluarga yang sederhana, ekonomi yang rendah. Tidak jarang kami bisa mendapatkan barang yang kami inginkan dengan mudah, ya memang semua membutuhkan uang.

Bagi kami kehidupan saat ini memberikan kami kesempatan untuk terus berkembang. Meningkatkan kemampuan untuk meraih cita-cita yang luhur. Membahagiakan kedua orangtua adalah tujuan utama yang harus kami perjuangkan.


Apalagi diriku anak pertama dari lima bersaudara. Aku bahkan tak tahu ketika ada masalah harus bercerita kepada siapa. Dituntut menjadi anak yang kuat, memiliki jiwa pejuang yang kuat, bahkan harus tahan gempuran halang rintang. Dibalik kuatnya jiwa yang meronta-ronta ingin mengangkat derajat kedua orangtua, juga memerlukan kelembutan hati yang super lembut. 

Anak pertama boleh saja keras kepala, tetapi harus memiliki jiwa yang lembut dan penyayang. Hal ini karena kami mempunyai adik-adik yang harus kami jaga. Jangan sampai kekeliruan tindakan menyebabkan mereka tersesat. Justru mereka harus lebih sukses daripada anak pertama.

Waktu Tidur Ku Terasa Berkurang

 

mimpi indah

Tidur adalah sebuah waktu untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah selama seharian beraktivitas. Tiap  orang memiliki waktu tidur masing-masing. Ada yang biasa tidur diawal, ada pula yang tidur diakhir waktu, bahkan ada yang suka begadang.

Saat ini aku tergolong orang yang suka tidur awal. Bukan karena tak mau ikut bergabung dengan yang lain. Tapi, benar-benar sudah lelah tubuh ini. Pagi tadi beres-beres sekitar halaman dari potongan bambu dan kayu. 

Justru saat ini yang paling penting dalam hidup ku, merasa disayang. Bukan berarti berharap diistimewakan. Hanya saja, setidaknya ditanyakan kabar nya bagaimana. Itu pun audah sedikit meringankan beban pikiran.

Apalagi malam ini, anak-anak sekitar bermain dikamar, yang seharusnya aku bisa istirahat lebih awal, namun tertunda hingga ku beri kesempatan sampai jam 10. 

Kalau ditanya, aku sudah lelah, ingin istirahat. Ku kira kalian hanya menemani tidur dikamar. Tapi malah bermain game. Memang asyik game itu, bisa membuat hati menjadi riang. 

Namun, kalian tidak merasakan lelahnya tubuh ini. Seakan-akan kamar hanya pelarian tidur dari rumah kalian, agar bisa leluasa bermain game. 

Aku mau marah juga kagak bisa. Buat apa marah pada kalian. Gak ada gunanya, bahkan hanya membuat ku semakin jengkel dan ingin segera tidur. 

Sebenarnya banyak hal yang terpendam yang ingin ku sampaikan, mungkin lain kali agar ada wajah baru yang muncul dan menjadi inspirasi bagi diriku.

Kadang, aku ingin pergi dulu dari kamar, biar bisa persiapan untuk tidur awal. Setelah kalian masuk rumah, aku akan kembali ke kamar untuk istirahat.




Persahabatan dalam Lingkaran Mengejar Cita-Cita

persahabatan itu indah

Persahabatan itu bagaikan kepompong, akan indah pada waktunya. Sebuah lirik lagu yang pernah ku dengar dari film di TV, beberapa waktu silam. Menurutku, aku kurang setuju dengan hal itu. Kepompong itu hidup secara sendirian, mengisolasi diri tanpa peduli keadaan disekitarnya. Memang benar, setelah sekian waktu akan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Sahabat itu ditemukan dari sebuah proses, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menjalin persahabatan itu membutuhkan proses, tidak bisa langsung menjadi akrab.

Istilah akrab itu semakin populer. Mempunyai teman akrab itu sebuah kebanggaan tersendiri. Dari situlah segala curhat dan masalah bisa dihadapi bersama. Ketika satu tidak bisa, dia turut membantu menyelesaikan tugas. Bermain bersama, meskipun terkadang harus terluka bareng. Dikejar provos yang sedang berjaga. Hingga diteriaki banyak orang. Sedih bercampur bahagia, meskipun ngos-ngosan.

Jujurnya aku juga tak terlalu paham tentang apa itu toxic relationship. Namun, disini aku hendak berbagi pengalaman tentang persahabatan ku dengan teman-teman.

Ketika aku usia SMP, aku berteman dengan 2 orang yang ahli dalam ibadah. Mereka sangat rajin, sikap mereka juga berwibawa. Hal itu menjadikan aku ingin selalu mengikuti apa yang mereka lakukan. Setiap gerakan yang mereka lakukan, selalu tak luput dari pandangan. Begitu pula, saat hari libur, kebiasaan itu masih berlanjut.

Ketika hari libur, aku tak bertemu dengan mereka. Karena memang rumah kami agak jauh. Bertemu hanya saat acara mengaji atau acara seputar itu. Disaat mereka membantu orang tua di sawah. Aku penasaran dengan tingkah laku mereka. Ku ketuk tombol telepon seluler lamaku, Nokia 2600. Masih mungil dan hanya bisa SMS dan telepon saja. 

petualangan bersama sahabat

Penasaran ini setiap saat muncul, anehnya aku tidak mencari kegiatan sendiri. Hanya sibuk melihat dan memperhatikan mereka. Kalau dinalar, buat apa sih. 

Tahu tidak, sebenarnya yang membuat diriku menjadi seperti ini, karena sikap mereka yang baik. Mementingkan ibadah daripada bermain yang tidak bermanfaat. Sejauh itu, aku tak merasakan dampak negatif dari mencari kesibukan orang lain, dan meninggalkan hal positif untuk diri sendiri. 

Seharusnya, waktu itu, aku mencari kegiatan yang bisa membuat diriku bisa lebih maju. Berpikir lebih luas dan memiliki keahlian yang cukup kuat. Sifat ini baru kusadari setelah remaja. Yap, penyesalan tiada artinya. Hanya usaha yang lebih keras lagi agar aku bisa hidup lebih baik. Nah, dampak negatif dari mengikuti kebiasaan orang lain itu, salah satunya menjadi orang yang kurang mandiri. Setiap kegiatan selalu, menjadi yang berikutnya. Setelah mereka melakukan baru ikut melaksanakan. 

Dilain kesempatan, aku berteman dengan orang yang memiliki sifat hampir berkebalikan dengan mereka. Namun, hobi mereka tetap sama, futsal. Kalau aku sendiri memang kurang menyukai olahraga ini, jadi tidak terlalu jago kalau diajak bermain. 

Suatu ketika, aku sedang magang di luar Jogja. Bertepatan dengan akhir tahun. Salah satu agenda tiap akhir tahun itu, pembinaan malam tahun baru. Tujuannya agar tidak ikut keluyuran, bermain keluar merayakan pergantian tahun baru. Justru diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Setidaknya bisa membentengi mereka dari pengaruh buruk dari pergaulan bebas diluaran sana. 

Biasanya grup itu sepi, namun saat hampir tiba tahun baru, grup menjadi ramai. Mereka yang aku pasrahi, menjalankan tugas dengan baik. Aku pun senang, ternyata mereka semangat sekali. Rintihan dalam hati pun iba, ingin segera pulang dan bergabung dengan mereka. Melihat kesemangatan dan kegigihan mereka yang saling bersahutan. 

Memang tak ada yang bisa mengubah takdir Tuhan, ketika aku berusaha pulang lebih awal. Setibanya di Jogja, sudah hampir subuh. Padahal aku punya rencana untuk bisa bergabung dengan mereka. Hati ini merasa tidak terlalu susah. Karena melihat kesemangatan mereka di grup.

Syukurlah, tahun baru kali ini tidak seperti sebelumnya. Karena ada pembatasan, sehingga tidak banyak acara yang bisa diperhelatkan. Biarlah saja, itulah yang ada dalam hatiku. Terpenting bagiku, bisa melaksanakan tugas itu sudah cukup. 

Aku juga harus menyayangi diriku sendiri, betapa tidak? Diusia yang hampir seperempat abad, belum bisa mandiri, belum bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa meringankan kedua orang tua. Aku juga punya cita-cita yang harus ku raih, mohon maaf jika aku jahat pada kalian. Karena kebahagiaan ku, bukan ditentukan dari kalian. Kita memang sahabat, namun kita juga punya cita-cita. Mungkin itu yang kalian rasakan juga. Pokoknya, tetap semangat meraih impian.

#NgabubuwriteWithPenulisGarut


Hidup Itu Penuh Rintangan, Semangat Yuks

hidup itu rumit/kenny

Hallo Lurs...

Gak tau kenapa, aku lebih suka menyapa dengan kata Lurs, yang kependekan dari sedulur.

Membicarakan tentang tekanan hidup, pasti setiap orang mempunyai pengalaman tersendiri. Mulai dari yang menyenangkan, hingga yang membuat mengelus dada. Artinya, karena sangat jeleknya, hati tak kuasa menahan rasa sakit. 

Tekanan hidup yang menyenangkan itu bagaikan menemukan emas sebesar kepala sapi ditumpukkan kotoran kerbau (letong). Apalagi yang masih hangat, hm, ditangan terasa nyaman untuk tetap memegang. Ditambah lagi keadaan alam yang kurang bersahabat, semisal dingin atau baru turun hujan. 

Hati itu seakan-akan terbang bebas di udara. Bebas tanpa ada tali pengikat. Mau kemana saja bisa, mau beli apa saja juga bisa. Itu baru sebatas tentang harta, apalagi jika kebahagiaan itu sesuai impiannya. Jauh lebih senang lagi. 

Kalau pun ada tekanan hidup yang menyenangkan, semua orang pasti akan memilihnya. Kenyataannya, tekanan hidup bukan tentang kesenangan. Tetapi lebih mengarah ke proses untuk mencapai impian. 

Ketika seseorang menginginkan sesuatu, dia akan selalu berusaha. Saat menjalani usaha itu, pasti akan menemukan hambatan dan rintangan yang tak sedikit. Adakalanya harus dihadapi dengan lari, sembunyi-sembunyi, atau bahkan dengan pengorbanan.

Diriku pun tak luput dari yang namanya tekanan, aku punya keinginan yang besar, menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat. Salah satunya ingin bekerja di perusahaan yang besar dan bonafit, serta bisa melanjutkan studi jenjang pascasarjana di luar negeri. 

Akan tetapi, semua itu tak semulus ekspetasi. Persiapan yang diperlukan harus benar-benar matang. Mulai dari kesiapan diri sendiri, perbekalan, hingga dokumen yang dipersyaratkan. Hal itu menjadi tekanan tersendiri, selain tekanan lain yang dirasakan.

1. Pertama, ketidakseriusan dalam belajar saat kuliah. 

kurang serius belajar/yusufari

Kesempatan kuliah itu  suatu keberuntungan. Bisa merasakan bangku perkuliahan adalah impian setiap orang. Dari ribuan pemuda, hanya sedikit yang bisa mendapatkan kenikmatan itu. Banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya faktor ekonomi. Selain itu, persaingan antara calon mahasiswa juga sangat tinggi, sedangkan bangku perkuliahan hanya terbatas. 

Alhamdulillah, saya bisa mendapatkan kesempatan menikmati bangku perkuliahan. Melalui beasiswa yang diselenggarakan kampus. Mengambil mata kuliah elektro itu bukan tanpa sebab. Awalnya, saya benar-benar ingin lepas dari jurusan sewaktu di bangku SMK. Jurusan yang ku ambil di SMK, bukan karena kehendak sendiri, akan tetapi hanya mengikuti arahan kakak tingkat. 

Disitulah awal kesalahan, mengira seusai lulus akan segera mendapatkan pekerjaan. Setelah lulus, aku pun menyesal, kenapa dulu kurang  serius. Sehingga tak bisa menguasai materi sekolah.

Sekarang, kuliah juga sama, ingin berusaha lebih baik dari sebelumnya. Lambat laun, materi semakin rumit, sedangkan dasar teknik sendiri belum menguasai. Kata dosen, kuliah itu hanya 1/3 waktu, sedangkan yang lainnya belajar sendiri. Materi tiap semester yang selalu berbeda, membuat materi sebelumnya hilang tanpa jejak. 

Hal yang membuat penyesalan, sewaktu luang hanya digunakan untuk menonton televisi, tidur, malas gerak dan intinya hanya di rumah dan santai-santai. Tak ku sangka, setiap hari teknologi semakin berkembang dan canggih. Maraknya teknologi membuat diri ini harus selalu mengikuti. Namun, untuk mengikuti semuanya tidaklah mudah, perlu niat dan kesungguhan. 

Ya, karena sifat yang terlalu kurang semangat, setiap menemukan kesulitan, langsung bosan, dan berhenti begitu saja. Jujur, bukannya kurang semangat. Akan tetapi, bingung memilih materi yang hendak dikembangkan. Saking banyaknya pilihan, bahkan saingan di dunia kerja. Bahkan, materi yang ku pelajari, juga dipelajari dilain jurusan, seperti teknik fisika, matematika, informasi, dan masih banyak lagi.

Materi kuliah sebenarnya masih umum, sedangkan perkembangannya sangat luas. Mau mendalami matlab atau bahasa python. Semuanya sama-sama sulit. Matlab sendiri berbayar dan harganya juga lumayan besar. Sedangkan python itu gratis, akan tetapi laptop yang ku gunakan kurang mendukung. Apalagi saat digunakan untuk pengolahan citra. 

Kedua, tekanan selanjutnya mengenai umur.

bertambah umur/lucian

Umur itu selalu bertambah, sebaliknya jatah hidup di dunia semakin berkurang. Di usia ku yang sudah menginjak 1/4 abad, memberikan tekanan tersendiri. Apalagi sudah lulus kuliah, masih menganggur. Belum mendapatkan pekerjaan, ditambah ilmu elektro yang tidak masuk keseluruhan untuk dipahami.

Orang tua menginginkan aku bekerja. Teman sebayaku sudah bekerja, itu yang mendasari beliau. Apalagi melihat remaja seumuran ku sudah bekerja, menjadi start up. Sukses membangun usaha. Membuat hati semakin meronta. Padahal sudah memasukan lamaran ke perusahaan, belum ada jawaban bahkan ada penolakan. 

Semua ini mungkin karena diriku sendiri. Menjadi anak rumahan yang jarang bergaul keluar. Menghabiskan waktu di rumah. Ingin kerja yang tidak membutuhkan tenaga ekstra, namun gaji ingin mulus. Meskipun selama ini, aku berusaha mengulang materi, tetap saja berhenti di tengah jalan.

3. Tekanan hidup antara kurangnya kemampuan dan usia menjadi permasalahan utama.

kemampuan/yusufari


Menyikapi semua ini, seharusnya aku mulai memotivasi diriku sendiri. Tidak bergantung kepada orang lain. Memang paling sulit memotivasi diri sendiri. Tak mudah bagi anak rumahan yang jarang bergaul untuk memiliki pikiran yang luas dan pengalaman yang banyak. 

Barang kali, mulai dari belajar diliterasi, akan membuka wawasan ku lebih open-minded. Apalagi orang tua yang usianya semakin senja. Tak mungkin setiap hari selalu meminta uang kepada beliau. Meskipun aku bukan perencana yang baik, yang selalu gagal menjalankan rencana yang telah dibuat. Aku harus tetap berjuang, baik untuk kesuksesan dunia maupun akhirat. Tentu saja, memulai membuka diri bergaul dengan orang-orang yang lebih sukses. Insyaallah akan menjadi lebih mudah. Konsekuensinya harus menghilangkan rasa malu untuk bersosialisasi. Serta memperbaiki ibadah agar lebih disayang Alloh.


#NgabubuwriteWithPenulisGarut

http://www.penulisgarut.web.id


Hari Gini Cowok Enggak Suka Futsal, Pasti Ada Saja Alasannya

bermain bola


Orang bilang aku orang aneh

Sebagai seorang lelaki yang tumbuh dewasa dengan kekurangan teman, alias tidak mudah bergaul mungkin sulit untuk mendapatkan kebahagiaan bersama teman-teman. setiap kali diajak untuk bermain bersama, entah itu futsal, sepak bola, nongkrong pasti ada saja alasannya untuk tetap berada dirumah dan tidak bergeming dari area rumah sedikitpun.

Dari sekian banyak lelaki, mungkin hanya aku yang tak menyukai futsal. Entah kenapa sejak dari usia SMP aku merasa tidak bisa bermain futsal. Kedengarannya memang biasa, tapi bagi seorang diri itu rasanya beribu patah hati. Bagaimana tidak, suatu hari saat ada pertandingan aku mulai ikut bergabung, skill ku masih sangat terbatas. hingga membuat tim lawan menang gegara aku tidak bisa menangkap bola.

Masa kelam dimasa kecil saat menangkap bola membuat pergelangan tangan terasa sakit. Mungkin aku leleaki yang lemah, anak lelaki itu harus kuat dan tahan banting. Masa hanya sedemikian saja merasa putus asa dan tak mau jadi kiper lagi. Padahal bisa bermain bersama itu asyik yaa.

Kisah selanjutnya saat pertandingan, karena aku membuat kesalahan , tak berani menghalau bola bahkan terlewati tim lawan. Selesai pertandingan ada kekecewaan dari raut wajah teman-teman. Aku jadi merasa bersalah karena tidak bisa berbuat semaksimal mungkin. Mulai dari situlah rasa takutku tak kunjung hilang. Setiap kali diajak teman tetap saja tidak mau, bahkan yang mengajak sampai jengkel dan tak mempedulikanku lagi.

Aku tak tahu akan seperti ini sampai kapan, kata mereka tidak apa-apa. Masih latihan, skill terbentuk karena sering latihan dan bukan bawaan dari lahir. Tapi memang aku sendiri yang masih tidak enak jika membuat kekecewaan lagi. Aku sadar, walaupun usia sudah tumbuh dewasa masih tidak bisa bermain futsal. Padahal disitulah momen bahagia dan kekaraban dapat didapatkan.

Lebih baik tidak datang sama sekali, daripada datang namun tidak mau ikut berpartisipasi. 

Hari gini cowok gak suka futsal, gimana jelaskannya yaa?

Itulah aku si lemah dan kurang semangat untuk menjadi orang yang lebih bisa, Tapi aku hanya bisa berdoa agar selalu diberikan sahabat yang selalu ada disampingku untuk menjadi lebih baik dan berkembang bersama

Kotaku Yogyakarta Penuh dengan Wisata Menarik

  unsplash.com/nugroho Oke Lurs,  Pada kali ini, kita akan bercerita tentang daerah asalku, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta. Nah, panggilan...